Rabu, 09 November 2011

MAKALAH KEBUDAYAAN BANTEN


MAKALAH
                 KEBUDAYAAN BANTEN



NAMA            : OVI SOVINA EKAWATI
NIM                 : 102300914
KELAS          : TBI-C
SEMESTER : 1

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTAN MAULANA HASANUDDIN BANTEN
2010

Pendahuluan

            Allah telah memberikan dorongan kepada manusia untuk memikirkan alam semesta, mengadakan pengamatan terhadap berbagai gejala alam, merenungkan keindahan ciptaannya dan mengungkap hukum- hukum nya di alam semesta ini.
            Manusia sebagai kholifah di bumi dengan akal budi dan ilmu pengetahuan yang di ajarkan Allah dan dari semua manusia, manusia di tuntut untuk mampu menciptakan piranti kehidupannya. Dengan karunia Allah dan akal budi serta cipta rasa dan karsa, manusia mampu menghasilkan kebudayaannya.Dari hasil- hasil budaya manusia itu dapat di bagi menjadi dua macam:
1.    Kebudayaan jasmaniah (kebudayaan fisik) yang meliputi benda- benda ciptaan manusia, misalnya alat- alat perlengkapan hidup.
2.    Kebudayaan rohaniah ( nonmaterial) yaitu semua hasil ciptaan manusia yang tidak dapat di raba atau di lihat, seperti bahasa, seni, religi, ilmu pengetahuan.
Banten sebagai komunitas kultural mempunyai kebudayaannya sendiri yang di tampilkan lewat unsur- unsur kebudayaan. Kebudayaan suatu daerah merupakan identitas bagi daerah tersebut.


KEBUDAYAAN BANTEN

1.    Pengertian kebudayaan
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan , tindakan dan hasil cipta, karsa, dan rasa manusia untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.
Terdapat tujuh unsur  kebudayaan sebagai cultural universal yang didapatkan pada semua bangsa di dunia, antara lain :
1.    Bahasa ( lisan maupun tertulis)
2.    Sistem teknologi ( peralatan dan perlengkapan hidupmanusia)
3.    Sistem mata pencarian (mata pencarian hidup dan Sistem ekonomi)
4.    Organisasi social ( sistem kemasyarakatan )
5.    System pengetahuan
6.    Religi

2.    Sejarah Banten

Banten adalah sebuah provinsi di Pulau Jawa, Indonesia. Provinsi ini dulunya merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat, namun dipisahkan sejak tahun 2000, dengan keputusan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000. Pusat pemerintahannya berada di Kota Serang.
Banten pada masa lalu merupakan daerah dengan kota pelabuhan yang sangat ramai serta dengan masyarakat yang terbuka dan makmur. Banten pada abad ke 5 merupakan bagian dari kerajaan Tarumanegara yang beragama hindu,.  Namun setelah runtuhnya kerajaan Tarumanegara maka di lanjutkan oleh kerajaan sunda. Lalu  Maulana Hasanuddin mendirikan kesultanan Banten.

3.    Budaya masyarakat banten

a.    Budaya dan Nilai
Sebagian besar anggota masyarakat memeluk agama Islam dengan semangat religius yang tinggi, tetapi pemeluk agama lain dapat hidup berdampingan dengan damai.
Potensi dan kekhasan budaya masyarakat Banten, antara lain seni bela diri Pencak silat, Debus, Rudad, Umbruk, Tari Saman, Tari Topeng, Tari Cokek, Dog-dog, Palingtung, dan Lojor. Di samping itu juga terdapat peninggalan warisan leluhur antara lain Masjid Agung Banten Lama, Makam Keramat Panjang, dan masih banyak peninggalan lainnya.
Di Provinsi Banten terdapat Suku Baduy. Suku Baduy Dalam merupakan suku asli Sunda Banten yang masih menjaga tradisi anti modernisasi, baik cara berpakaian maupun pola hidup lainnya. Suku Baduy-Rawayan tinggal di kawasan Cagar Budaya Pegunungan Kendeng seluas 5.101,85 hektare di daerah Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy umumnya terletak di daerah aliran Sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng. Daerah ini dikenal sebagai wilayah tanah titipan dari nenek moyang, yang harus dipelihara dan dijaga baik-baik, tidak boleh dirusak.
b.    Bahasa
Penduduk asli yang hidup di Provinsi Banten berbicara menggunakan dialek yang merupakan turunan dari bahasa Sunda Kuno. Dialek tersebut dikelompokkan sebagai bahasa kasar dalam bahasa Sunda modern, yang memiliki beberapa tingkatan dari tingkat halus sampai tingkat kasar (informal), yang pertama tercipta pada masa Kesultanan Mataram menguasai Priangan (bagian tenggara Provinsi Jawa Barat). Namun demikian, di Wilayah Banten Selatan Seperti Lebak dan Pandeglangmenggunakan Bahasa Sunda Campuran Sunda Kuno, Sunda Modern dan Bahasa Indonesia, di Serang dan Cilegon, bahasa Jawa Banten digunakan oleh etnik Jawa. Dan, di bagian utara Kota Tangerang, bahasa Indonesia dengan dialek Betawi juga digunakan oleh pendatang beretnis Betawi. Di samping bahasa Sunda, bahasa Jawa dan dialek Betawi, bahasa Indonesia juga digunakan terutama oleh pendatang dari bagian lain Indonesia.
c.    Senjata tradisional
Golok adalah senjata tradisional di Banten.

d.    Rumah adat

Rumah adatnya adalah rumah panggung yang beratapkan daun atap dan lantainya dibuat dari pelupuh yaitu bambu yang dibelah-belah. Sedangkan dindingnya terbuat dari bilik (gedek). Untuk penyangga rumah panggung adalah batu yang sudah dibuat sedemikian rupa berbentuk balok yang ujungnya makin mengecil seperti batu yang digunakan untuk alas menumbuk beras. Rumah adat ini masih banyak ditemukan di daerah yang dihuni oleh orang Kanekes atau disebut juga orang Baduy.
Arsitektur rumah adat mengandung filosofi kehidupan keluarga, aturan tabu, dan nilai-nilai privasi, yang dituangkan dalam bentuk ruangan paralel dengan atap panggung, dan tiang-tiang penyanggah tertentu. Filosofi itu telah berubah menjadi keindahan fisik sehingga arsitekturnya hanya bermakna estetik.

e.    Tradisi masyarakat
Tradisi masyarakat Banten pada umumnya berhubungan dengan keaganmaan . tradisi yang sudah sering kita lihat pada masyarakat banten yang masih bertahan hingga sekarang antara lain :
1.    Peringatan maulid nabi
2.    Memperingati 7 hari meninggalnya kerabat
3.    Memperingati 40 hari meninggalnya kerabat
4.    Arak- arakan saat sahur ramadhan
5.    Khaulan
6.    Dan lain- lain
f.     Kesenian
Kesenian adalah keahlian dan keterampilan manusia untuk menciptakan dan melahirkan hal-hal yang bernilai indah. Ukuran keindahannya tergantung pada kebudayaan setempat, karena kesenian sebagai salah satu unsur kebudayaan. Dari segi macam-macamnya, kesenian itu terdapat banyak macamnya, dari yang bersumber pada keindahan suara dan pandangan sampai pada perasaan, bahkan mungkin menyentuh spiritual.
Ada tanda-tanda kesenian Banten itu merupakan kesenian peninggalan sebelum Islam dan dipadu atau diwarnai dengan agama Islam. Misalnya arsitektur mesjid dengan tiga tingkat sebagai simbolisasi Iman, Islam, Ihsan, atau Syari’at, tharekat, hakekat. Arsitektur seperti ini berlaku di seluruh masjid di Banten. Kemudian ada kecenderungan berubah menjadi bentuk kubah, dan mungkin pada bentuk apa lagi, tapi yang nampak ada kecenderungan lepas dari simbolisasi agama melainkan pada seni itu sendiri.
Mengenai kesenian lain, ada pula yang teridentifikasi kesenian lama (dulu) yang belum berubah, kecuali mungkin kemasannya. Kesenian-kesenian dimaksud ialah:

1.    Seni Debus Surosowan
2.    Seni Debus Pusaka Banten
3.    Seni Rudat
4.    Seni Terbang Gede
5.    Seni Patingtung
6.    Seni Wayang Golek
7.    Seni Saman
8.    Seni Sulap-Kebatinan
9.    Seni Angklung Buhun
10. Seni Beluk
11. Seni Wawacan Syekh
12. Seni Mawalan
13. Seni Kasidahan
14. Seni Gambus
15. Seni Reog
16. Seni Calung
17. Seni Marhaban
18. Seni Dzikir Mulud
19. Seni Terbang Genjring
20. Seni Bendrong Lesung
21. Seni Gacle
22. Seni Buka Pintu
23. Seni Wayang Kulit
24. Seni Tari Wewe
25. Seni Adu Bedug
26. Dan lain-lain

Kesenian-kesenian tersebut masih tetap ada, mungkin belum berubah kecuali kemasan-kemasannya, misalnya pada kesenian kasidah dan gambus. Relevansi kesenian tradisional ini mungkin, jika berkenaan dengan obyek kajian penelitian maka yang diperlukan adalah orsinilitasnya. Tetapi jika untuk kepentingan pariwisata maka perlu kemasan yang menarik tanpa menghilangkan substansinya.
Walaupun mungkin, secara umum kesenian-kesenian tersebut akan tunduk pada hukum perubahan sehubungan dengan pengaruh kebudayaan lain. Mungkin karena tidak diminati yang artinya tidak ada pendukung pada kesenian itu, bisa jadi lama atau tidak, akan punah. Karena itu, mengenai kesenian yang tidak boleh lepas dari nilai-nilai Kebudayaan Banten, bisa jadi atau malah harus ada perubahan kemasan.
4.    Perubahan kebudayaan
Masyarakat dan kebudayaan di manapun selalu dalam keadaan berubah, sekalipun masyarakat dan kebudayaan primitif yang terisolasi jauh dari berbagai perhubungan dngan masyarakat yang lain. Perubahan ini, selain karena jumlah penduduk dan komposisinya , juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan- penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi.Difusi kebudayaan adalah persebaran unsur- unsur kebudayaan dari suatu tempat ke tempat lain di muka bumi, yang di bawa oleh kelompok- kelompok manusia yang bermigrasi.
Perubahan terjadi umumnya karena pada para pemuda. Angkatan pemuda islam sepertinya telah terbius oleh akses- akses seni budaya barat. Mereka ingin terlihat modern, sementara mereka begitu antipati dan menjauhi seni budayanya sendiriyang bernafaskan islam. Penyebab para pemuda islam “menyebrang” ke kebudayaan barat di antaranya adalah :
1.    Kesenian umat islam berjalan dan hidup secara tradisional, itu- itu juga, stagnant sehingga kurang menarik minat dan selera pemuda.
2.    Seni budaya umat islam kurang kreatif, inovatif, dan variatif. Ketinggalan dalam bobot dan kualitas.
Contohnya terjadi pada pemain debus di Banten. Pada saat ini banyak pendekar debus bermukim di Desa Walantaka, Kecamatan Walantaka, Kabupaten Serang. Yang sangat disayangkan keberadaan debus makin lama kian berkurang, dikarenakan para pemuda lebih suka mencari mata pencaharian yang lain. Dan karena memang atraksi ini juga cukup berbahaya untuk dilakukan, karena tidak jarang banyak pemain debus yang celaka karena kurang latihan maupun ada yang “jahil” dengan pertunjukan yang mereka lakukan. Sehingga semakin lama warisan budaya ini semakin punah. Dahulu kita bisa menyaksikan atraksi debus ini dibanyak wilayah banten, tapi sekarang atraksi debus hanya ada pada saat event – event tertentu. Jadi tidak setiap hari kita dapat melihat atraksi ini. Warisan budaya, yang makin lama makin tergerus oleh perubahan jaman.
Masyarakat Banten merupakan masyarakat yang mempunyai budaya ketimuran. Namun saat ini sudah mulai bercampur dengan budaya barat, terutama cara berpakaian pria dan wanitanya, juga mata pencaharian dan peralatan sehari- hari yang mereka gunakan. Hal tersebut karena sudah berkembangnya teknologi informasi di dunia, maka masyarakat banten berusaha untuk tidak tertinggal oleh zaman.
Adapun gangguan- gangguan moral yang di timbulkan oleh moralitas modern di Indonesia, terutama di tanah Banten antara lain :
1.    munculnya night life ( kehidupan malam )
2.    beauty contess yang memperdagangkan keluwesan dan kecantikan tubuh wanita sebagai hiburan.
3.    pornografi
4.    homoseksualisme dan lesbianisme
5.    mode pakaian, khususnya bagi kaum wanita. Mode pakaian wanita semakin “mini” dan menonjolkan keindahan tubuh wanita. Bukan lagi berfungsi untuk menutup aurat.
Budaya barat memang memiliki dampak positif dan negatif terhadap masyarakat Banten, maka kita harus pandai memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk.

Penutup
Banten sebagai komunitas kutural memang mempunyai kebudayaannya sendiri yang ditampilkan lewat unsur-unsur kebudayaan. Dilihat dari unsur-unsur kebudayaan itu, masing-masing unsur berbeda pada tingkat perkembangan dan perubahannya. Karena itu terhadap unsur-unsur yang niscaya harus berkembang dan bertahan, harus didorong pula bagi pendukungnya untuk terus menerus belajar (kulturisasi) dalam pemahaman dan penularan kebudayaan.
Kalau boleh dikatakan, menangkap deskripsi budaya Banten adalah upaya yang harus serius, kalau tidak ingin menjadi punah. Kepunahan suatu kebudayaan sama artinya dengan lenyapnya identitas. Hidup tanpa identitas berarti berpindah pada identitas lain dengan menyengsarakan identitas semula.

Daftar pustaka
Notowidagdo, Rohiman. 1996. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al- Qur’an dan Hadits. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Ismail, Faisal. 1996. Paradigma Kebudayaan Islam. Yogyakarta : Titian Ilahi Press.
Aminudin, Sandjin. 1997. Banten kota pelabuhan jalan sutra. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Asy Arie, Musa. 1992. Manusia Pembentuk Kebudayaan Dalam Al-Qur’an. Yogyakarta : Lembaga Studi Filsafat Islam.
Soelaiman, Munandar, 1992. Ilmu Budaya Dasar, Suatu Pengantar. Bandung : PT. Eresco.

http.google.com/budaya banten
http.wikipedia.org/wiki/banten
http.humaspdg.wordpress.com
http.navigasi.net/budbsbtn

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

comment