Selasa, 10 Januari 2012

Penderita Asperger

Pada salah satu sudut kelas terlihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih 9 tahun, sedang tekun menggambar sementara ibunya sedang berbicara dengan gurunya di depan kelas. Ia terlihat sangat asyik menggambar tanda-tanda (icon) yang terdapat pada program Microsoft Word, dengan tarikan garis yang sangat pas, sangat detil hingga seolah-olah kita sedang berhadapan dengan layar komputer dan siap bekerja dengan program Microsoft Word. Ketika salah seorang rekan gurunya datang menghampiri, anak laki-laki tersebut terlihat tidak memperdulikannya namun tiba-tiba dia menyapa dan memulai pembicaraan dengan kata “Ini tanda apa!” sambil menunjuk simbol W yang mewakili Microsoft Word. Belum sempat guru tersebut menjawab, ia sudah melanjutkan kata-kata berikutnya berupa penjelasan dari tanda-tanda yang dibuatnya ;.”new….open….save….print….” dan seterusnya hingga tanda-tanda yang digambarkannya selesai disebutkan. Intonasi selama pembicaraan terlihat datar dengan wajah tanpa ekspresi. Ia terlihat seolah-olah ingin berkomunikasi dengan guru yang menghampirinya, namun kontak mata hanya sesekali. Percakapan hanya berlangsung satu arah, formal dengan topik pembicaraan terbatas dan berulang hanya pada tanda-tanda Microsoft Word.

Gambaran di atas mewakili karakteristik yang ditunjukkan oleh anak dengan sindrom asperger, yaitu gangguan perkembangan yang berada dalam spektrum autis. Kondisi yang dialami mempengaruhi kemampuan mereka dalam melakukan interaksi sosial dua arah, komunikasi verbal dan non verbal yang miskin dan keengganan untuk menerima perubahan. Cara berpikir mereka kurang luwes dan rentang minat sangat terbatas, mendalam pada bidang-bidang tertentu yang menjadi minatnya saja seperti matematika, ilmu pengetahuan, binatang atau komputer. Kecerdasan mereka normal bahkan cenderung di atas rata-rata. Pada anak-anak dengan tingkat gangguan yang sangat ringan seringkali tidak terdiagnosa dan mungkin tampil hanya sebagai anak yang aneh atau eksentrik.

Dalam gambaran yang lebih umum, anak-anak dengan sindrom asperger sulit untuk berteman dengan anak-anak seusianya, kurang dapat memahami tanda-tanda sosial yang diperlukan. Penggunaan bahasa terlihat aneh dan mereka cenderung untuk mengartikan apa yang didengar atau dibaca secara literal, hanya berdasarkan arti kata yang sebenarnya. Kepada mereka perlu diajarkan keterampilan sosial dengan menjelaskan situasi sosial dari waktu ke waktu.

Salah satu kemampuan yang terganggu pada anak-anak dengan sindrom asperger adalah kemampuan berbahasa, yang pada akhirnya juga mempengaruhi keterampilan mereka dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa hampir 50 % anak-anak dengan sindrom asperger terlambat dalam perkembangan bicara, tetapi mereka biasanya dapat berbicara dengan lancar pada saat berusia 5 tahun (Eisenmajer, dkk dalam Attwood, 1998). Meskipun demikian, cara mereka berbicara sangat aneh, tampak nyata pada saat mereka kurang dapat mengembangkan percakapan yang wajar. Penguasaan fonologi (pengucapan) dan sintaksis (tata kalimat) mengikuti pola yang sama dengan anak-anak yang lain, namun perbedaan utama tampak pada kemampuan pragmatis (penggunaan bahasa pada konteks sosial), semantik (pemahaman suatu kata memiliki beberapa arti) serta prosodi (tinggi rendah, tekanan dan ritme suara).

Berikut ini adalah strategi penanganan yang dapat dilakukan untuk membantu kesulitan berbahasa yang dialami.

Kemampuan Pragmatis
Lebih umum dikenal sebagai seni dalam berbicara. Anak-anak dengan sindrom asperger seringkali mengalami kesulitan untuk memulai interaksi dengan orang lain karena mereka sulit untuk menempatkan kalimat pembuka pada suatu percakapan sesuai dengan situasi sosial yang sedang dihadapi. Misalnya dalam menghadapi tamu orangtuanya yang datang ke rumah, salah seorang anak dengan sindrom asperger akan berkata “Halo, apakah kamu menyukai ikan pari?”, ketika tamu tersebut baru memasuki ruang tamu. Kemudian ia akan meneruskan pembicaraan dengan memberikan penjelasan yang lebih detil tentang topik tersebut secara ilmiah hingga selesai. Percakapan akan berlangsung satu arah, meskipun lawan bicaranya terlihat bosan atau menginginkan pembicaraan dihentikan. Atau tiba-tiba saja seorang anak dengan sindrom asperger mengomentari tamu ibunya dengan berkata “Tante bertubuh besar”, dimana anak tersebut tidak menyadari wajah merah ibunya atau tamu tersebut karena malu atau marah.

Yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah:
· Mengajarkan mereka berbagai kalimat pembuka percakapan disesuaikan dengan berbagai situasi sosial, yang umum dilakukan orang.
· Ajarkan pula mereka untuk meminta penjelasan ketika mengalami kebingungan. Berikan dukungan agar mereka lebih percaya diri untuk mengakui “Saya tidak tahu” karena umumnya anak-anak dengan sindrom asperger tidak ingin terlihat oleh orang lain bahwa mereka tidak tahu.
· Mengajarkan mereka tanda-tanda kapan harus memberikan jawaban balasan, menginterupsi suatu percakapan atau mengubah topik pembicaraan.
· Mendampingi dan membisikkan anak apa yang harus dikatakannya pada suatu percakapan yang lebih kompleks. Secara bertahap, anak didukung untuk memulai percakapannya sendiri.
· Abaikan anak ketika mereka memberikan komentar-komentar yang tidak relevan dalam suatu percakapan.

Cara yang dapat dilakukan untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan tersebut di atas adalah melalui bermain peran atau menggunakan balon bicara tentang cerita sosial seperti percakapan yang terdapat dalam komik. Melalui balon bicara, reaksi emosi yang muncul pada suatu percakapan dapat divisualisasikan melaui gambar atau warna.

Kemampuan Semantik
Anak-anak dengan sindrom asperger cenderung menginterpretasikan apa yang orang lain katakan secara literal. Mereka kurang dapat memahami berbagai kemungkinan arti dari suatu kata, yang dapat disesuaikan dengan konteks sosialnya. Mereka kurang dapat menyadari arti kata yang tesembunyi, implisit atau bermakna ganda. Misalnya “dalam bekerja sama kita harus saling berpegangan tangan” yang mereka artikan berpegangan tangan dalam arti yang sebenarnya. Karena kekurangannya tersebut, anak-anak ini kurang memahami olokan teman, aturan permainan atau humor.

Dalam mengatasi permasalahan tersebut sebaiknya orangtua atau guru:
· Menyederhanakan pembicaraan, disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka.
· Membuatkan buku catatan kecil yang berisi contoh kata-kata kiasan dan alternatif arti yang terkandung di dalamnya. Kemudian cobalah untuk menerapkan kata-kata tersebut dalam cerita sosial, yang dapat dibantu melalui percakapan dalam komik.

Prosodi
Dalam suatu percakapan, pengubahan intonasi dan besarnya suara dilakukan untuk memberikan penekanan pada kata-kata kunci atau emosi tertentu. Variasi tersebut tidak ditemukan pada anak-anak dengan sindrom asperger karena pembicaraan mereka cenderung datar, monoton dan tanpa disertai ekspresi wajah yang sesuai.

Melalui latihan drama, anak dapat diajarkan untuk memodifikasi tekanan, ritme dan tinggi rendahnya suara. Lebih lanjut, penanganan oleh terapis wicara dapat membantu mengatasi masalah tersebut.

Disamping kesulitan-kesulitan berbahasa di atas, pada saat berkomunikasi anak-anak dengan sindrom asperger seringkali menemukan hambatan berkaitan dengan:

· Kesulitan untuk membedakan dan/gangguan suara
Mereka menemukan kesulitan ketika harus memperhatikan suara seseorang diantara suara orang lainnya yang berbicara pada saat bersamaan. Hal ini dapat terjadi misalnya ketika suara guru menerangkan pada kelas yang bersebelahan saling terdengar. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan untuk memahami penjelasan guru atau pun instruksi yang diberikan. Yang dapat dilakukan oleh guru atau orangtua adalah:

- Memberikan dukungan kepada anak untuk meminta pengulangan instruksi dengan lebih singkat dan dengan bahasa yang lebih mudah untuk dipahami.
- Mintalah anak untuk mengulang kembali intruksi yang telah diberikan untuk mengetahui penerimaannya.
- Beri jeda setiap selesai menyampaikan suatu kalimat/instruksi.
- Untuk membantu penerimaan anak terhadap penjelasan guru di kelas, berikan tugas pada anak untuk membaca terlebih dahulu materi baru yang akan diajarkan.

· Kecenderungan untuk berbicara sendiri
Anak-anak dengan sindrom asperger seringkali berbicara sendiri ketika sedang bermain sendiri atau sedang bersama orang lain. Mereka menjadi terlihat aneh dan kegiatan yang mereka lakukan mengganggu perhatian orang lain. Tidak jarang mereka menjadi bahan olokan teman-temannya atau instruksi guru menjadi terabaikan.

Bila kegiatan tersebut sudah menganggu orang lain, ajarkan mereka untuk berbisik-bisik saja.

· Kelancaran verbal
Pada saat anak-anak asperger memiliki antusiasme yang sangat tinggi terhadap minat mereka, mereka akan membicarakan minat tersebut secara terus menerus dan seringkali membuat orang lain yang mendengarkannya merasa bosan. Oleh karena itu sebaiknya mereka diajarkan untuk mengenali tanda-tanda kapan dia harus berhenti berbicara. Sebaliknya pada saat anak-anak ini menjadi diam atau kehilangan kata-kata mereka, guru dan orangtua hendaknya mewaspadai kemungkinan mereka sedang memiliki kecemasan yang sangat tinggi sehingga memerlukan penanganan ahli.

Pada dasarnya anak-anak dengan sindrom asperger merupakan anak-anak yang cerdas, bahagia dan penuh dengan kasih sayang. Bila kita dapat membantu mereka menembus “dunia kecil” mereka, kita dapat membantu mengatasi permasalahan mereka untuk menjadi lebih baik dalam masyarakat.

oleh
Vitriani Sumarlis, Psi

sumber : Regina Pacis http://kesulitanbelajar.blogspot.com/


Kamis, 10 November 2011

i love the scholar indonesia 2007

Pada musim kedua acara ini, peserta yang terdiri dari sepuluh orang siswa SMA berprestasi berjuang memperebutkan beasiswa di Sekolah Bisnis Prasetya Mulya. Sepuluh kontestan musim pertama adalah Riska Mirzalina (SMUN 1 Bogor), Kamil C (SMU Pribadi Depok), Adinda Ayu Ristiani (SMUN 1 Kudus), Bintang Cesario (SMUN 8 Yogyakarta), Rosa Oktavia (SMUK 7 BPK Penabur Jakarta), Euthalia Ginting (SMU 1 Kabanjahe), Firie Arianti Boer (SMU Stella Maris Jakarta), Haryo Hutomo (SMUN 3 Malang), Leo Wibisono Arifin (SMUN 1 Mataram), dan Vincent Irvanky (SMUK 3 Penabur Jakarta). Sepuluh finalis tersebut diuji kemampuan akademik, kepemimpinan, semangat, dan kerjasamanya melalui berbagai permainan, antara lain; The Captain’s Team Challenges, Deliberation dan The Showdown. The Scholar Indonesia musim kedua ini dimenangkan oleh Riska Mirzalina.

Peserta The Scholar Indonesia 2007

Rabu, 09 November 2011

RESENSI BUKU ILMU HADITS

RESENSI
ILMU HADITS


Disusun oleh :
Nama               : Ovi Sovina Ekawati
NIM                 : 102300914
Kelas               : TBI-C / II






INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTAN MAULANA HASANUDDIN
BANTEN
2010/2011


Judul Buku                  : Sejarah & Pengantar Ilmu Hadits
Pengarang                   : Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqi
Penerbit                       : PT. Pustaka Rizki Putra, Semarang
Tahun Terbit                : 1998 ( Cetakan kedua)
Nama Peresensi           : Ovi Sovina Ekawati

            Buku Hadits ini berisi tentang pengetahuan mengenai hadits mulai dari yang paling mendasar. Berikut ini merupakan isi pokok dari buku Sejarah & Pengantar Ilmu Hadis :
-      Riwayat perkembangan dan riwayat pembukuan hadis dari zaman ke zaman hingga sampai kepada masa terkumpulnya dalam “ Dewan- dewan Hadits” yang muktabar.
-      Macam-macam ilmu hadits dan sejarah perkembangannya.
-      Kedudukan hadits, sunnah, dalam bidang dasar syari’at, fungsinya, rutbahnya, manzilahnya, dari Al-Qur’an dan batas-batas penjelasannya.
-      Pokok-pokok ilmu musthalah ahli hadits, cara dan shigah hadits, sifat-sifat perawi yang diterima dan yang ditolak riwayatnya.
-      Sejarah ringkas dari pemuka-pemuka sahabat tabi’in perawi hadits dan ulama-ulamanya.


            Di buku ini terdapat banyak sekali kelebihan daripada kekurangannya. Menurut saya buku ini juga lebih unggul daripada buku hadits yang lainnya. Di sini di jelaskan mulai dari yang paling mendasar sehingga sangat cocok menjadi pedoman para pemula yang ingin mempelajari hadits. Tiap- tiap istilah berbahasa Arab yang sulit di mengerti orang awam seperti kata Atsar, Khabar, Maudu’ dan lain- lain di jelaskan cukup mendetail di buku ini. Terdapat pula cara memeriksa hadits yang sohih dan do’if, kitab- kitab induk hadits,  dan lain- lain. Isi buku ini amat lengkap tentang pengetahuan tentang hadis dari yang mendasar hingga yang cukup rumit, juga terdapat bagan tentang derajat hadits serta daftar istilah lainnya. Buku ini sangat cocok untuk di pelajari mahasiswa.


            Di buku hadits ini hampir tidak ditemukan kekurangan namun ada sedikit sekali kelemahan dalam penyusunannya. Dibagian daftar isi, sekilas amat rumit untuk mencari bab yang kesekian, harus dilihat lebih seksama lagi.

MAKALAH KEBUDAYAAN BANTEN


MAKALAH
                 KEBUDAYAAN BANTEN



NAMA            : OVI SOVINA EKAWATI
NIM                 : 102300914
KELAS          : TBI-C
SEMESTER : 1

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTAN MAULANA HASANUDDIN BANTEN
2010

Pendahuluan

            Allah telah memberikan dorongan kepada manusia untuk memikirkan alam semesta, mengadakan pengamatan terhadap berbagai gejala alam, merenungkan keindahan ciptaannya dan mengungkap hukum- hukum nya di alam semesta ini.
            Manusia sebagai kholifah di bumi dengan akal budi dan ilmu pengetahuan yang di ajarkan Allah dan dari semua manusia, manusia di tuntut untuk mampu menciptakan piranti kehidupannya. Dengan karunia Allah dan akal budi serta cipta rasa dan karsa, manusia mampu menghasilkan kebudayaannya.Dari hasil- hasil budaya manusia itu dapat di bagi menjadi dua macam:
1.    Kebudayaan jasmaniah (kebudayaan fisik) yang meliputi benda- benda ciptaan manusia, misalnya alat- alat perlengkapan hidup.
2.    Kebudayaan rohaniah ( nonmaterial) yaitu semua hasil ciptaan manusia yang tidak dapat di raba atau di lihat, seperti bahasa, seni, religi, ilmu pengetahuan.
Banten sebagai komunitas kultural mempunyai kebudayaannya sendiri yang di tampilkan lewat unsur- unsur kebudayaan. Kebudayaan suatu daerah merupakan identitas bagi daerah tersebut.


KEBUDAYAAN BANTEN

1.    Pengertian kebudayaan
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan , tindakan dan hasil cipta, karsa, dan rasa manusia untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.
Terdapat tujuh unsur  kebudayaan sebagai cultural universal yang didapatkan pada semua bangsa di dunia, antara lain :
1.    Bahasa ( lisan maupun tertulis)
2.    Sistem teknologi ( peralatan dan perlengkapan hidupmanusia)
3.    Sistem mata pencarian (mata pencarian hidup dan Sistem ekonomi)
4.    Organisasi social ( sistem kemasyarakatan )
5.    System pengetahuan
6.    Religi

2.    Sejarah Banten

Banten adalah sebuah provinsi di Pulau Jawa, Indonesia. Provinsi ini dulunya merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat, namun dipisahkan sejak tahun 2000, dengan keputusan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000. Pusat pemerintahannya berada di Kota Serang.
Banten pada masa lalu merupakan daerah dengan kota pelabuhan yang sangat ramai serta dengan masyarakat yang terbuka dan makmur. Banten pada abad ke 5 merupakan bagian dari kerajaan Tarumanegara yang beragama hindu,.  Namun setelah runtuhnya kerajaan Tarumanegara maka di lanjutkan oleh kerajaan sunda. Lalu  Maulana Hasanuddin mendirikan kesultanan Banten.

3.    Budaya masyarakat banten

a.    Budaya dan Nilai
Sebagian besar anggota masyarakat memeluk agama Islam dengan semangat religius yang tinggi, tetapi pemeluk agama lain dapat hidup berdampingan dengan damai.
Potensi dan kekhasan budaya masyarakat Banten, antara lain seni bela diri Pencak silat, Debus, Rudad, Umbruk, Tari Saman, Tari Topeng, Tari Cokek, Dog-dog, Palingtung, dan Lojor. Di samping itu juga terdapat peninggalan warisan leluhur antara lain Masjid Agung Banten Lama, Makam Keramat Panjang, dan masih banyak peninggalan lainnya.
Di Provinsi Banten terdapat Suku Baduy. Suku Baduy Dalam merupakan suku asli Sunda Banten yang masih menjaga tradisi anti modernisasi, baik cara berpakaian maupun pola hidup lainnya. Suku Baduy-Rawayan tinggal di kawasan Cagar Budaya Pegunungan Kendeng seluas 5.101,85 hektare di daerah Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy umumnya terletak di daerah aliran Sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng. Daerah ini dikenal sebagai wilayah tanah titipan dari nenek moyang, yang harus dipelihara dan dijaga baik-baik, tidak boleh dirusak.
b.    Bahasa
Penduduk asli yang hidup di Provinsi Banten berbicara menggunakan dialek yang merupakan turunan dari bahasa Sunda Kuno. Dialek tersebut dikelompokkan sebagai bahasa kasar dalam bahasa Sunda modern, yang memiliki beberapa tingkatan dari tingkat halus sampai tingkat kasar (informal), yang pertama tercipta pada masa Kesultanan Mataram menguasai Priangan (bagian tenggara Provinsi Jawa Barat). Namun demikian, di Wilayah Banten Selatan Seperti Lebak dan Pandeglangmenggunakan Bahasa Sunda Campuran Sunda Kuno, Sunda Modern dan Bahasa Indonesia, di Serang dan Cilegon, bahasa Jawa Banten digunakan oleh etnik Jawa. Dan, di bagian utara Kota Tangerang, bahasa Indonesia dengan dialek Betawi juga digunakan oleh pendatang beretnis Betawi. Di samping bahasa Sunda, bahasa Jawa dan dialek Betawi, bahasa Indonesia juga digunakan terutama oleh pendatang dari bagian lain Indonesia.
c.    Senjata tradisional
Golok adalah senjata tradisional di Banten.

d.    Rumah adat

Rumah adatnya adalah rumah panggung yang beratapkan daun atap dan lantainya dibuat dari pelupuh yaitu bambu yang dibelah-belah. Sedangkan dindingnya terbuat dari bilik (gedek). Untuk penyangga rumah panggung adalah batu yang sudah dibuat sedemikian rupa berbentuk balok yang ujungnya makin mengecil seperti batu yang digunakan untuk alas menumbuk beras. Rumah adat ini masih banyak ditemukan di daerah yang dihuni oleh orang Kanekes atau disebut juga orang Baduy.
Arsitektur rumah adat mengandung filosofi kehidupan keluarga, aturan tabu, dan nilai-nilai privasi, yang dituangkan dalam bentuk ruangan paralel dengan atap panggung, dan tiang-tiang penyanggah tertentu. Filosofi itu telah berubah menjadi keindahan fisik sehingga arsitekturnya hanya bermakna estetik.

e.    Tradisi masyarakat
Tradisi masyarakat Banten pada umumnya berhubungan dengan keaganmaan . tradisi yang sudah sering kita lihat pada masyarakat banten yang masih bertahan hingga sekarang antara lain :
1.    Peringatan maulid nabi
2.    Memperingati 7 hari meninggalnya kerabat
3.    Memperingati 40 hari meninggalnya kerabat
4.    Arak- arakan saat sahur ramadhan
5.    Khaulan
6.    Dan lain- lain
f.     Kesenian
Kesenian adalah keahlian dan keterampilan manusia untuk menciptakan dan melahirkan hal-hal yang bernilai indah. Ukuran keindahannya tergantung pada kebudayaan setempat, karena kesenian sebagai salah satu unsur kebudayaan. Dari segi macam-macamnya, kesenian itu terdapat banyak macamnya, dari yang bersumber pada keindahan suara dan pandangan sampai pada perasaan, bahkan mungkin menyentuh spiritual.
Ada tanda-tanda kesenian Banten itu merupakan kesenian peninggalan sebelum Islam dan dipadu atau diwarnai dengan agama Islam. Misalnya arsitektur mesjid dengan tiga tingkat sebagai simbolisasi Iman, Islam, Ihsan, atau Syari’at, tharekat, hakekat. Arsitektur seperti ini berlaku di seluruh masjid di Banten. Kemudian ada kecenderungan berubah menjadi bentuk kubah, dan mungkin pada bentuk apa lagi, tapi yang nampak ada kecenderungan lepas dari simbolisasi agama melainkan pada seni itu sendiri.
Mengenai kesenian lain, ada pula yang teridentifikasi kesenian lama (dulu) yang belum berubah, kecuali mungkin kemasannya. Kesenian-kesenian dimaksud ialah:

1.    Seni Debus Surosowan
2.    Seni Debus Pusaka Banten
3.    Seni Rudat
4.    Seni Terbang Gede
5.    Seni Patingtung
6.    Seni Wayang Golek
7.    Seni Saman
8.    Seni Sulap-Kebatinan
9.    Seni Angklung Buhun
10. Seni Beluk
11. Seni Wawacan Syekh
12. Seni Mawalan
13. Seni Kasidahan
14. Seni Gambus
15. Seni Reog
16. Seni Calung
17. Seni Marhaban
18. Seni Dzikir Mulud
19. Seni Terbang Genjring
20. Seni Bendrong Lesung
21. Seni Gacle
22. Seni Buka Pintu
23. Seni Wayang Kulit
24. Seni Tari Wewe
25. Seni Adu Bedug
26. Dan lain-lain

Kesenian-kesenian tersebut masih tetap ada, mungkin belum berubah kecuali kemasan-kemasannya, misalnya pada kesenian kasidah dan gambus. Relevansi kesenian tradisional ini mungkin, jika berkenaan dengan obyek kajian penelitian maka yang diperlukan adalah orsinilitasnya. Tetapi jika untuk kepentingan pariwisata maka perlu kemasan yang menarik tanpa menghilangkan substansinya.
Walaupun mungkin, secara umum kesenian-kesenian tersebut akan tunduk pada hukum perubahan sehubungan dengan pengaruh kebudayaan lain. Mungkin karena tidak diminati yang artinya tidak ada pendukung pada kesenian itu, bisa jadi lama atau tidak, akan punah. Karena itu, mengenai kesenian yang tidak boleh lepas dari nilai-nilai Kebudayaan Banten, bisa jadi atau malah harus ada perubahan kemasan.
4.    Perubahan kebudayaan
Masyarakat dan kebudayaan di manapun selalu dalam keadaan berubah, sekalipun masyarakat dan kebudayaan primitif yang terisolasi jauh dari berbagai perhubungan dngan masyarakat yang lain. Perubahan ini, selain karena jumlah penduduk dan komposisinya , juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan- penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi.Difusi kebudayaan adalah persebaran unsur- unsur kebudayaan dari suatu tempat ke tempat lain di muka bumi, yang di bawa oleh kelompok- kelompok manusia yang bermigrasi.
Perubahan terjadi umumnya karena pada para pemuda. Angkatan pemuda islam sepertinya telah terbius oleh akses- akses seni budaya barat. Mereka ingin terlihat modern, sementara mereka begitu antipati dan menjauhi seni budayanya sendiriyang bernafaskan islam. Penyebab para pemuda islam “menyebrang” ke kebudayaan barat di antaranya adalah :
1.    Kesenian umat islam berjalan dan hidup secara tradisional, itu- itu juga, stagnant sehingga kurang menarik minat dan selera pemuda.
2.    Seni budaya umat islam kurang kreatif, inovatif, dan variatif. Ketinggalan dalam bobot dan kualitas.
Contohnya terjadi pada pemain debus di Banten. Pada saat ini banyak pendekar debus bermukim di Desa Walantaka, Kecamatan Walantaka, Kabupaten Serang. Yang sangat disayangkan keberadaan debus makin lama kian berkurang, dikarenakan para pemuda lebih suka mencari mata pencaharian yang lain. Dan karena memang atraksi ini juga cukup berbahaya untuk dilakukan, karena tidak jarang banyak pemain debus yang celaka karena kurang latihan maupun ada yang “jahil” dengan pertunjukan yang mereka lakukan. Sehingga semakin lama warisan budaya ini semakin punah. Dahulu kita bisa menyaksikan atraksi debus ini dibanyak wilayah banten, tapi sekarang atraksi debus hanya ada pada saat event – event tertentu. Jadi tidak setiap hari kita dapat melihat atraksi ini. Warisan budaya, yang makin lama makin tergerus oleh perubahan jaman.
Masyarakat Banten merupakan masyarakat yang mempunyai budaya ketimuran. Namun saat ini sudah mulai bercampur dengan budaya barat, terutama cara berpakaian pria dan wanitanya, juga mata pencaharian dan peralatan sehari- hari yang mereka gunakan. Hal tersebut karena sudah berkembangnya teknologi informasi di dunia, maka masyarakat banten berusaha untuk tidak tertinggal oleh zaman.
Adapun gangguan- gangguan moral yang di timbulkan oleh moralitas modern di Indonesia, terutama di tanah Banten antara lain :
1.    munculnya night life ( kehidupan malam )
2.    beauty contess yang memperdagangkan keluwesan dan kecantikan tubuh wanita sebagai hiburan.
3.    pornografi
4.    homoseksualisme dan lesbianisme
5.    mode pakaian, khususnya bagi kaum wanita. Mode pakaian wanita semakin “mini” dan menonjolkan keindahan tubuh wanita. Bukan lagi berfungsi untuk menutup aurat.
Budaya barat memang memiliki dampak positif dan negatif terhadap masyarakat Banten, maka kita harus pandai memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk.

Penutup
Banten sebagai komunitas kutural memang mempunyai kebudayaannya sendiri yang ditampilkan lewat unsur-unsur kebudayaan. Dilihat dari unsur-unsur kebudayaan itu, masing-masing unsur berbeda pada tingkat perkembangan dan perubahannya. Karena itu terhadap unsur-unsur yang niscaya harus berkembang dan bertahan, harus didorong pula bagi pendukungnya untuk terus menerus belajar (kulturisasi) dalam pemahaman dan penularan kebudayaan.
Kalau boleh dikatakan, menangkap deskripsi budaya Banten adalah upaya yang harus serius, kalau tidak ingin menjadi punah. Kepunahan suatu kebudayaan sama artinya dengan lenyapnya identitas. Hidup tanpa identitas berarti berpindah pada identitas lain dengan menyengsarakan identitas semula.

Daftar pustaka
Notowidagdo, Rohiman. 1996. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al- Qur’an dan Hadits. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Ismail, Faisal. 1996. Paradigma Kebudayaan Islam. Yogyakarta : Titian Ilahi Press.
Aminudin, Sandjin. 1997. Banten kota pelabuhan jalan sutra. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Asy Arie, Musa. 1992. Manusia Pembentuk Kebudayaan Dalam Al-Qur’an. Yogyakarta : Lembaga Studi Filsafat Islam.
Soelaiman, Munandar, 1992. Ilmu Budaya Dasar, Suatu Pengantar. Bandung : PT. Eresco.

http.google.com/budaya banten
http.wikipedia.org/wiki/banten
http.humaspdg.wordpress.com
http.navigasi.net/budbsbtn

comment